Dulu, waktu aku kecil, orang tua di lingkunganku berucap bahwa kedua telingaku harus mendengarkan perkataan orang lain. Nasihat itu selalu melekat di benakku sehingga di kehidupanku aku lebih sering mendengarkan daripada harus berdebat dengan orang lain. Hal ini telah membuatku menjadi seorang pendengar yang budiman. Dan itupun terjadi di perkuliahanku.

Ketika memasuki semester ganjil di awal perkuliahan, semua terasa sangat asing bagiku. Kamu harus bisa beradaptasi. Begitulah ucapan mereka saat melihatku terdiam. Lalu aku hanya akan tersenyum di dalam keruhnya wajahku. Memang benar kata orang adaptasi itu sangat susah apalagi kalau harus dilaksanakan oleh orang yang telah tersihir kata “Diam itu emas”. Akibat dari sifatku ini banyak orang yang beranggapan bahwa aku adalah seorang yang kurang ide atau bahkan bodoh. Hal yang paling membuatku sedih adalah saat mereka mengatakan bahwa aku adalah seorang yang kuper alias kurang pergaulan.

Kata-kata itu semakin marak ditambah lagi karena ayahku adalah seorang pejabat daerah di tapanuli. Mereka kembali menyimpulkan bahwa aku adalah seorang yang sangat sombong. Entah apa lagi yang mereka katakan. Kata-kata kuper itu segera lenyap dan berganti fase dengan kata angkuh.Aku hanya diam.

Suatu ketika aku terdiam ketika seorang laki-laki mendekatiku dan berkata bahwa aku sombong dan angkuh. Pada awalnya ini biasa saja tapi yang beda adalah yang mengatakan ini adalah Rayhan. Laki-laki yang sangat kusukai. Aku hanya terdiam mendengar hal seperti itu. Hingga dengan naasnya mereka mulai berkata.

“Orang sombong pasti lebih cepat matinya”

Semua perkataan itu membuatku sakit hati. Aku tak tahu mengapa mereka

mengatakan hal tersebut. Mereka mulai menentukan kapan aku hidup dan mati. Aku mulai memikirkan mereka yang mengutukku dengan hal-hal seperti itu. Terkadang aku ingin melawan. Namun, seperti biasa aku hanya akan diam.

Suatu hari aku mulai mengajak pikiranku untuk berubah karena aku yakin suatu saat aku akan menjadi seorang yang kritis dan banyak teman dan aku memulai rencana perubahan ini di saat pengerjaan tugas proyek nanti.

Akhirnya tiba saatnya untuk pengerjaan proyek.Dan ini dikerjakan secara team. Aku berusaha memberikan yang terbaik untuk proyek ini terutama untuk menjadi seorang teman yang baik. Aku terdiam melihat duniaku yang penuh dengan senyuman dari seorang “teman”.

“Kalian harus bisa bekerja sebagai team yang solid” pesan supervisor kami.

Setiap kali aku akan mengerjakan proyek ini, aku selalu berdoa agar aku bisa masuk ke dunia mereka. Beginilah jadinya, hari-hari kulalui dengan menyenangkan hati mereka. Proyek yang sulit ini kukerjakan dengan baik. Walau mereka memalingkan wajah dan mulai membual tentang kesibukan masing-masing. Sebagai “teman” aku hanya maklum.

Hingga suatu hari ada presentasi untuk proyek. Berbagai macam pertanyaan dilontarkan kepada kami. Seribu alasan kembali dilemparkan ke supervisor untuk mempertahankan kata “teman” ini. Kali ini aku tidak diam. Delapan puluh persen pertanyaan kandas di tanganku. Semua senang termasuk “teman” ku.

Pada dasarnya hatiku gundah. Aku merasa bahwa semua ini salah. Aku ingin mengungkapkan semuanya. Aku ingin berteriak dan berkata

“Mereka tidak pernah bekerja pak. Hanya aku…Aku mengerjakan proyek ini sendirian dan akupun harus merelakan bongkahan daging yang ada di tubuhku berkurang akibat adanya pengerjaan yang terlalu berlebihan ini.”

Tapi aku hanya diam dan menunduk.

“Pengerjaan yang bagus Ki” Tiba-tiba mereka memujiku dan entah kenapa aku merasa senang dengan hal itu.

“Iya..tapi lain kali kalian ikut mengerjakan juga ya” Balasku sambil tersenyum juga.

Mereka tersenyum dan berkata

“Sebagai seorang teman, kamu harus rela berkorban.”

Aku bingung dengan makna kalimat ini. Mereka meninggalkanku. Sendirian. Tanpa “teman”. Setelah beberapa menit aku memutuskan untuk melupakan kalimat demi kalimat yang mereka lontarkan. “Mudah-mudahan mereka tidak mengutukku lagi.” Pikirku dalam hati.

Aku memutuskan untuk menikmati hasil presentasiku dan pergi ke warung di depan kampus untuk makan bakso. Aku ingin merayakan hasil kerja kerasku dalam pengerjaan proyek ini. Tiba-tiba Intan datang dan dan berkata.

“Gimana presentasi proyeknya??”

“Biasa aja” Jawabku sambil mengulum mie yang berada di mangkuk bakso.

“Katanya kamu nggak ngerjain proyek ya??”

Tiba-tiba aku tersentak dan mulai berkata lagi.

“Siapa yang bilang????”

“Teman-teman satu proyekmu”

“maksudmu “teman”ku gitu???”

“Yup…dan lebih tragis lagi katanya kamu berkencan dengan pak Deni ya???”

Aku terperanjat dari tempat dudukku. Aku nggak tahu “teman” mana yang telah memfitnahku dengan kejam. Aku ternodai dengan kalimat yang begitu memangsaku. Aku bingung dan tak terkendali. Aliran darah dalam tubuhku mulai naik. Jantungku berdetak kencang. Nafasku mulai naik turun.

“Dimana mereka????” Balasku kemudian.

“Aku nggak tau” Balas Intan kemudian.

Aku langsung pergi ke tempat yang belum bisa aku perkirakan sebelumnya. Langkahku terayun dengan gesa-gesa. Aku sangat kecewa. Langkahku mulai beradu dengan rasa panas yang ada di hatiku. Ingin kumaki, tendang dan kutampar mereka.

Apakah ini yang disebut dengan “teman”.Pikirku dalam hati

“Anton cs dimana Man???” Tanyaku kepada Herman.

“Mereka ada di kafe Murni Ki???Tadi kayaknya…”

Aku langsung pergi tanpa mendengar apa yang dikatakan oleh Herman. Aku tak mendengarnya. Apakah aku melanggar nasihat orangtuaku???.Aku tak peduli lagi. Aku mau memotong lidah yang begitu najis tersebut. Tak layak. Sungguh tak layak untuk diperdengarkan.

Aku pergi menjumpai “teman”ku. Aku berjalan hingga aku sadar bahwa aku tak pernah berjalan sejauh itu sebelumnya. Rasa ini meliputi seluruh jiwaku. Hingga akhirnya aku melihat mereka berdiri di depan kafe Murni. Aku memanggil mereka.

“Dasar kurang ajar…Kamu pikir aku cewek apaan???Aku akan menghabisi kalian semua.” Balasku sambil melihat ke arah mereka dengan amarah yang tak dapat kukendalikan lagi.

“Awas….” Balas mereka kemudian.

Bruk..Bruk. Sebuah mobil menabrakku. Aku terdiam kembali melihat darah yang terkucur di tubuhku.

Aku tak ingat lagi apa yang terjadi selain melihat rumah sakit yang menjadi tempat kediamanku untuk sementara waktu. Lalu seorang dokter datang ke ruanganku dan berkata.

“Teman-temanmu yang membawamu kesini”

“Teman-temanku yang mana dok???”

“Aku nggak tahu. Tapi dia bilang kamu itu temannya”

Aku merasa senang dengan perkataan dokter tersebut. Ternyata aku punya teman. Pikirku kemudian.

Tak lama kemudian Intan datang ke rumah sakit.

“Makasih ya Tan..Udah bawa aku kesini”

“Iya…Untung aja kamu nggak apa-apa”

“Ngomong-ngomong kok kamu ada saat…..”

“Aku yang menabrakmu Ki.”

“Jadi….”

“Maafkan aku Ki. Aku nggak sengaja. Aku terburu-buru tadi. Aku tadi salah ngomong. Ternyata Kiki yang dimaksudkan itu bukan kamu. Maafkan aku lagi ya”

“Jadi Anton..”

“Mereka yang membantuku mengantarkanmu kesini”

“Dimana mereka???” Aku kebingungan dengan apa yang terjadi.

“Mereka udah pulang ke rumah masing-masing untuk segera menelepon Pak Andi dan meminta izin bahwa kamu tidak kuliah untuk sementara waktu”

Beberapa saat kemudian AKU TERDIAM.