AKU DI DALAM DIRI MEREKA Kamis, Mei 8 2008 

Dulu, waktu aku kecil, orang tua di lingkunganku berucap bahwa kedua telingaku harus mendengarkan perkataan orang lain. Nasihat itu selalu melekat di benakku sehingga di kehidupanku aku lebih sering mendengarkan daripada harus berdebat dengan orang lain. Hal ini telah membuatku menjadi seorang pendengar yang budiman. Dan itupun terjadi di perkuliahanku.

Ketika memasuki semester ganjil di awal perkuliahan, semua terasa sangat asing bagiku. Kamu harus bisa beradaptasi. Begitulah ucapan mereka saat melihatku terdiam. Lalu aku hanya akan tersenyum di dalam keruhnya wajahku. Memang benar kata orang adaptasi itu sangat susah apalagi kalau harus dilaksanakan oleh orang yang telah tersihir kata “Diam itu emas”. Akibat dari sifatku ini banyak orang yang beranggapan bahwa aku adalah seorang yang kurang ide atau bahkan bodoh. Hal yang paling membuatku sedih adalah saat mereka mengatakan bahwa aku adalah seorang yang kuper alias kurang pergaulan.

Kata-kata itu semakin marak ditambah lagi karena ayahku adalah seorang pejabat daerah di tapanuli. Mereka kembali menyimpulkan bahwa aku adalah seorang yang sangat sombong. Entah apa lagi yang mereka katakan. Kata-kata kuper itu segera lenyap dan berganti fase dengan kata angkuh.Aku hanya diam.

Suatu ketika aku terdiam ketika seorang laki-laki mendekatiku dan berkata bahwa aku sombong dan angkuh. Pada awalnya ini biasa saja tapi yang beda adalah yang mengatakan ini adalah Rayhan. Laki-laki yang sangat kusukai. Aku hanya terdiam mendengar hal seperti itu. Hingga dengan naasnya mereka mulai berkata.

“Orang sombong pasti lebih cepat matinya”

Semua perkataan itu membuatku sakit hati. Aku tak tahu mengapa mereka

mengatakan hal tersebut. Mereka mulai menentukan kapan aku hidup dan mati. Aku mulai memikirkan mereka yang mengutukku dengan hal-hal seperti itu. Terkadang aku ingin melawan. Namun, seperti biasa aku hanya akan diam.

Suatu hari aku mulai mengajak pikiranku untuk berubah karena aku yakin suatu saat aku akan menjadi seorang yang kritis dan banyak teman dan aku memulai rencana perubahan ini di saat pengerjaan tugas proyek nanti.

Akhirnya tiba saatnya untuk pengerjaan proyek.Dan ini dikerjakan secara team. Aku berusaha memberikan yang terbaik untuk proyek ini terutama untuk menjadi seorang teman yang baik. Aku terdiam melihat duniaku yang penuh dengan senyuman dari seorang “teman”.

“Kalian harus bisa bekerja sebagai team yang solid” pesan supervisor kami.

Setiap kali aku akan mengerjakan proyek ini, aku selalu berdoa agar aku bisa masuk ke dunia mereka. Beginilah jadinya, hari-hari kulalui dengan menyenangkan hati mereka. Proyek yang sulit ini kukerjakan dengan baik. Walau mereka memalingkan wajah dan mulai membual tentang kesibukan masing-masing. Sebagai “teman” aku hanya maklum.

Hingga suatu hari ada presentasi untuk proyek. Berbagai macam pertanyaan dilontarkan kepada kami. Seribu alasan kembali dilemparkan ke supervisor untuk mempertahankan kata “teman” ini. Kali ini aku tidak diam. Delapan puluh persen pertanyaan kandas di tanganku. Semua senang termasuk “teman” ku.

Pada dasarnya hatiku gundah. Aku merasa bahwa semua ini salah. Aku ingin mengungkapkan semuanya. Aku ingin berteriak dan berkata

“Mereka tidak pernah bekerja pak. Hanya aku…Aku mengerjakan proyek ini sendirian dan akupun harus merelakan bongkahan daging yang ada di tubuhku berkurang akibat adanya pengerjaan yang terlalu berlebihan ini.”

Tapi aku hanya diam dan menunduk.

“Pengerjaan yang bagus Ki” Tiba-tiba mereka memujiku dan entah kenapa aku merasa senang dengan hal itu.

“Iya..tapi lain kali kalian ikut mengerjakan juga ya” Balasku sambil tersenyum juga.

Mereka tersenyum dan berkata

“Sebagai seorang teman, kamu harus rela berkorban.”

Aku bingung dengan makna kalimat ini. Mereka meninggalkanku. Sendirian. Tanpa “teman”. Setelah beberapa menit aku memutuskan untuk melupakan kalimat demi kalimat yang mereka lontarkan. “Mudah-mudahan mereka tidak mengutukku lagi.” Pikirku dalam hati.

Aku memutuskan untuk menikmati hasil presentasiku dan pergi ke warung di depan kampus untuk makan bakso. Aku ingin merayakan hasil kerja kerasku dalam pengerjaan proyek ini. Tiba-tiba Intan datang dan dan berkata.

“Gimana presentasi proyeknya??”

“Biasa aja” Jawabku sambil mengulum mie yang berada di mangkuk bakso.

“Katanya kamu nggak ngerjain proyek ya??”

Tiba-tiba aku tersentak dan mulai berkata lagi.

“Siapa yang bilang????”

“Teman-teman satu proyekmu”

“maksudmu “teman”ku gitu???”

“Yup…dan lebih tragis lagi katanya kamu berkencan dengan pak Deni ya???”

Aku terperanjat dari tempat dudukku. Aku nggak tahu “teman” mana yang telah memfitnahku dengan kejam. Aku ternodai dengan kalimat yang begitu memangsaku. Aku bingung dan tak terkendali. Aliran darah dalam tubuhku mulai naik. Jantungku berdetak kencang. Nafasku mulai naik turun.

“Dimana mereka????” Balasku kemudian.

“Aku nggak tau” Balas Intan kemudian.

Aku langsung pergi ke tempat yang belum bisa aku perkirakan sebelumnya. Langkahku terayun dengan gesa-gesa. Aku sangat kecewa. Langkahku mulai beradu dengan rasa panas yang ada di hatiku. Ingin kumaki, tendang dan kutampar mereka.

Apakah ini yang disebut dengan “teman”.Pikirku dalam hati

“Anton cs dimana Man???” Tanyaku kepada Herman.

“Mereka ada di kafe Murni Ki???Tadi kayaknya…”

Aku langsung pergi tanpa mendengar apa yang dikatakan oleh Herman. Aku tak mendengarnya. Apakah aku melanggar nasihat orangtuaku???.Aku tak peduli lagi. Aku mau memotong lidah yang begitu najis tersebut. Tak layak. Sungguh tak layak untuk diperdengarkan.

Aku pergi menjumpai “teman”ku. Aku berjalan hingga aku sadar bahwa aku tak pernah berjalan sejauh itu sebelumnya. Rasa ini meliputi seluruh jiwaku. Hingga akhirnya aku melihat mereka berdiri di depan kafe Murni. Aku memanggil mereka.

“Dasar kurang ajar…Kamu pikir aku cewek apaan???Aku akan menghabisi kalian semua.” Balasku sambil melihat ke arah mereka dengan amarah yang tak dapat kukendalikan lagi.

“Awas….” Balas mereka kemudian.

Bruk..Bruk. Sebuah mobil menabrakku. Aku terdiam kembali melihat darah yang terkucur di tubuhku.

Aku tak ingat lagi apa yang terjadi selain melihat rumah sakit yang menjadi tempat kediamanku untuk sementara waktu. Lalu seorang dokter datang ke ruanganku dan berkata.

“Teman-temanmu yang membawamu kesini”

“Teman-temanku yang mana dok???”

“Aku nggak tahu. Tapi dia bilang kamu itu temannya”

Aku merasa senang dengan perkataan dokter tersebut. Ternyata aku punya teman. Pikirku kemudian.

Tak lama kemudian Intan datang ke rumah sakit.

“Makasih ya Tan..Udah bawa aku kesini”

“Iya…Untung aja kamu nggak apa-apa”

“Ngomong-ngomong kok kamu ada saat…..”

“Aku yang menabrakmu Ki.”

“Jadi….”

“Maafkan aku Ki. Aku nggak sengaja. Aku terburu-buru tadi. Aku tadi salah ngomong. Ternyata Kiki yang dimaksudkan itu bukan kamu. Maafkan aku lagi ya”

“Jadi Anton..”

“Mereka yang membantuku mengantarkanmu kesini”

“Dimana mereka???” Aku kebingungan dengan apa yang terjadi.

“Mereka udah pulang ke rumah masing-masing untuk segera menelepon Pak Andi dan meminta izin bahwa kamu tidak kuliah untuk sementara waktu”

Beberapa saat kemudian AKU TERDIAM.

Gadis kecil bertubuh dewasa Selasa, Mei 6 2008 

Hari ini panas matahari menyerang tubuh si gadis kecil.Tak dirasakannya lagi begitu beratnya perjuangannya untuk mendapatkan sesuap nasi di tengah kerumunan orang yang sedang berbelanja.Takkan dihiraukannya lagi sejuta ion-ion dalam tubuhnya telah hilang ditelan oleh panasnya matahari yang melawan tubuhnya.Diteguknya satu gelas air putih untuk memuaskan dahaganya.

Teringat olehnya bahwa tubuhnya yang kecil mungil itu sudah tidak makan seharian.Semua cacing-cacing dalam tubuhnya sudah melakukan perlawanan yang membuat tubuh si gadis kecil semakin kesakitan.

Akibat dari perlawanan cacing-cacing itu,akhirnya dia memutuskan untuk meminta-minta di depan khalayak ramai.Tak heran kalau tidak ada orang yang memberikannya uang.Walau ada yang memberikannya itupun hanyalah ibu-ibu yang merasa iba melihat tubuh gadis kecil itu yang sedang berjuang melawan sakit.

Kulewati jalan dan menatap gadis kecil itu.Terbersit di benakku di kala aku masih kecil dan bermain-main dengan teman-teman.Masa kecil adalah masa yang paling bahagia di sepanjang hidup manusia.Di kala masa itu sebagai seorang anak kecil yang masih lemah kita pun dibujuk untuk melakukan sesuatu dan yang paling sering adalah di waktu kita hendak makan sambil membuang nasi tanpa ada rasa bersalah.

Segala permainan telah dicoba waktu itu.Berlarian sambil tertawa seiring berjalannya waktu adalah hal yang sangat membahagiakan di kala senja menyambut.Kau akan sangat Bahagia di saat kau mengetahui bahwa kita masih dicintai dan disayangi.

Teringatku terhadap masa lalu.

“Ki….makan”Kata Mama.
“bentar ma,Aku lagi seru nih”Balasku sambil terus berlari.
“Cepat dong…”Kata mama.
“Aduh….Mama cerewet banget sih”Balasku sambil mengerutkan dahi.
“Bukannya cerewet….Nanti kamu sakit gimana”Kata Mama sambil berlari menghampiriku.
“Nanti….”Kataku.
“Aduh…Sekarang”Kata Mama seraya menangkapku dan memelukku dari belakang.
“Mama….Lepasin dong”Kataku.
“mama bakal lepasin klo nanti kamu dah makan.”Kata mama.
“Ya..Udah.Dua suap aja ya”Kataku sambil duduk di pangkuan Mama.

Mamapun menyuapiku dengan hati-hati agar nasi tidak bertumpahan.Akhirnya barang yang bernama nasi itu masuk ke dalam mulutku.Setelah nasi itu kutelan dan telah habis.Aku balik bertanya kepada mama.

“Ma….mengapa kita harus makan”Tanyaku penasaran.
“biar kamu sehat”Kata mama.
“nah…agghh….muka mulutnya”Balas mama seraya membuka mulutnya agar aku menirukannya.Lalu nasi itu masuk lagi ke mulutku.
“…Dan biar pintar.”Kata Mama menimpali perkataannya sendiri..
“Kok….”Kataku lagi sambil tambah penasaran.
“Kiki kan pengen jadi dokter”Kata mama.
“Iya….Dokter itu baik ma.Bisa menolong orang”kataku lugu.
“Nah…Klo gitu kiki mesti makan bergizi ya”kata mama.
“Ok….deh”Balasku sambil melahap nasi yang terdapat di piring bundar.

Tersentakku di dalam hayalan.Teringatku bahwa itu adalah masa kecilku dulu.sekarang aku sudah jadi seorang dokter.Alangkah beruntungnya aku.

“kak….”Balas gadis kecil.
“ya….Apa???”balasku kaget.

Sambil mengulurkan tangan dia meminta uang padaku.

“Kakak kagum ya”Katanya.
“maksudnya????”Balasku.
“Kakak kagumkan lihat aku”Katanya.
“Nggak ahhh…”Balasku seraya memberi uang seribuan ke tangannya.
“Aku tau kok.Orang macam aku itu adalah sampah bagi masyarakat”katanya lagi.
“itu sih bukan kagum”balasku sambil memberi uang seribuan.
“Ohhh..Iya bukan ya”Balasnya seraya tersenyum menatap uang yang sudah ada di tangan kanannya.
“Kamu dah makan”Tanyaku pada gadis kecil yang sibuk dengan uangnya.
“udah kak…”Katanya sambil lesu.
“Loh..Kok lesu”Kataku lagi.
“Udah Lusa kemarin”Katanya.
“sekarang???????”Balasku.
“Udah satu hari aku nggak makan”Balasnya sambil menundukkan kepala.
“Ya..Udah.Makan yuk”Ajakku.
“Yuk!!!”Balasnya senang.

Kupandangi wajah kecil yang masih belia itu.Diangkatnya tubuh kecilnya dari jalan.Tak pantas anak yang kecil ini mencari makan seperti orang dewasa.Dia seharusnya sekarang berada di rumah sambil tidur siang.Namun,sekarang dia harus mencari makan untuk dirinya.

Seratus meter dari tempat itu akhirnya kami sampai ke rumah makan.Kutawari dia makan.

“Kamu mau makan apa???”Tanyaku.
“Makan nasi ama tempe aja kak”Katanya.
“Kok..”Kataku.
“Iya…kak.Itu makanan favorit aku.”Katanya.
pikiranku melayang.teringatku masa kecilku.Aku paling senang sama makanan Itali.Makanan yang selalu kuidam-idamkan.

Sepuluh menit kemudian pesanan kami datang.Tak lupa kami berdoa sebelum makan.Lalu setelah itu akupun mengobrol lagi dengan si gadis kecil.Tak terasa kami sudah menghabiskan makanan kami tanpa sisa.

“Kamu dah lama mengemis ya???”Tanyaku.
“Nggak kok kak”Balasnya.
“Kok kamu bisa ngemis sih???”Tanyaku lagi.
“Aku putus sekolah karena ayah di-PHK”Jawabnya sambil makan tempe kesukaannya.
“Ohhhh…..”Balasku.
“Kamu punya cita-cita nggak???”Tanyaku lagi.
“aku pengen jadi seorang dokter”Balasnya.
“Bagus…dunk.kakak seorang dokter loh”Balasku.
“Ahhhh..Kakak seorang dokter…Aku pengen banget kayak kakak”Balasnya dengan mata terkagum-kagum.

Kulihat jamku.Wahhhhh…..Ternyata aku lupa ada rapat hari ini.Kubayar makanan kami.
“Kakak pergi dulu ya”Kataku.
“Ohhh…Iya Kak.”Balasnya.
“makasih ya Kak”Katanya.

Lalu sambil tergesa-gesa kutinggalkan gadis kecil bertubuh dewasa itu di rumah makan.Namun,Aku tersadar.Aku belum menanyakan nama gadis kecil itu.Lalu aku putuskan untuk menanyakannya besok.

Keesokan harinya matahari sudah mulai menampakkan wajahnya kepadaku.Sinarnya membawaku kepada jejak langkah gadis kecil kemarin.Namun,gadis kecil itu tidak kelihatan.Apakah sinar matahari sudah menyembunyikannya di balik awan kesengsaraan.

Lalu kuputuskan untuk meninggalkan tempat itu.Tak jauh dari situ ada kerumunan yang sedang kumpul.Penasaranku pada apa yang terjadi.

“Permisi….ada apa ya???”Tanyaku pada seseorang yang sedang berdiri di tempat kejadian.
“Ada seorang gadis kecil….”Balasnya.
“Mayat….”Balasnya lagi untuk kedua kalinya.

Lalu tiba-tiba aku tersentak melihat potongan mayat yang organ tubuhnya sudah diambil sebagian.Tak sanggup aku melihatnya.Namun,kuberanikan diri untuk melihat wajahnya.Ternyata itu adalah gadis kecil yang kemarin makan bersamaku.Lalu kuberanikan diri untuk bertanya.

Lima menit kemudian ambulans datang untuk melihat kejadian itu.Dibawanya tubuh gadis kecil yang tak sempurna itu ke dalam mobil.Lalu mobil ambulans itu berlalu seiring dengan berlalunya tubuh gadis kecil itu.Dalam hatiku aku selalu menanyakan apa yang sedang terjadi.Akhirnya aku mengetahui bahwa ayahnya menjual si gadis kecil untuk mendapatkan uang.Aku tak bisa berpikir lagi mengapa si Ayah tega membunuh gadis kecilnya.Setelah itu,si Ayahpun dipenjara di Lembaga Permasyarakatan

Setelah kejadian itu aku mulai sibuk dengan kegiatan rumah sakit.Bayangan si gadis kecilpun mulai kabur dari ingatanku.Semuanya serasa bagai halusinasi anak kecil tentang kejamnya dunia.Seorang gadis kecil yang hanya tahu tentang cinta orangtua.kini telah terbang melayang di bawah angin.Hati kecilnya pun masih berkata bahwa ayahnya sangat mencintainya.Ayah melakukannya agar aku tidak menderita lagi.Ayah melakukannya karena ayah adalah ayahku.

Sebulan kemudian aku melewati jalan itu lagi.Teringat olehku cerita lalu yang hanya dapat kuingat lagi di dalam mimpi.Namun,ketika kulangkahkan kakiku tanpa arah yang pasti aku menemukannya lagi.Seorang gadis kecil yang lain yang sedang mengemis.Seketika kudekati aku melihat tubuh yang lain dari gadis itu tapi aku melihat wajah gadis kecil yang kukenal dulu.Kuraba wajahnya namun tubuhnya telah pergi.Dia hanya mengucapkan terima kasih atas makanan yang telah aku berikan dulu kapadanya.
Bayangan putihnya kini hilang dari hadapanku.Kuraih bayangnya namun tak bisa kusentuh.

Si gadis kecilpun akhirnya pergi tanpa berkata-kata.Si gadis kecil yang dulu sempat kukenal hanya dalam beberapa jam.Namun,kini dia pergi bukan untuk beberapa jam tapi dia telah pergi utuk selama-lamanya.Tak sempatku menanyakan namanya.Namun bagiku dia masih gadis kecil bertubuh dewasa.

Hubungan timbal balik Sabtu, Mei 3 2008 

Dulu orang tuaku selalu berkata “Kasihilah sesamamu agar dia juga mengasihimu”.Nasihat ini terus tercantum di benakku. Aku selalu berharap memang begitulah kenyataannya. Tapi sekarang aku sadar bahwa ini dunia yang penuh dengan ketidakjelasan ini makin menggurui mengenai arti kata tersebut.

Kemarin ketika aku sedang menbantu temanku yang terjatuh. Ehh…malah aku dibilang cari perhatian dan sok dibilang baik. Ahh..pokoknya susah banget deh. Terkadang aku merasa semua ini nggak ada gunanya.  Namun,keesokan harinya ketika aku membawa buku untuk mengikuti kuliah, bukuku terjatuh dan dia mengambilkannya untukku. Lalu dia berkata “Kita impas dunk” aku nggak ada hutang budi lagi ama kamu ya.

Aku jadi terheran-heran dengan kalimat tersebut. Apakah karena aku membantunya kemarin lalu dia mau membantuku untuk hari ini. Bagaimana jika seandainya dia nggak terjatuh kemarin dan aku nggak ada disana. Apakah dia juga akan membantuku????

Inilah yang aku sebut sebagai hubungan timbal balik. Jika kita mengasihi orang lain maka dia juga akan mengasihi dia asal dia nggak merasa dirugikan. Kalau kita jahat pada orang lain maka di dalam otaknya dia akan menjahati kita. Ya…mungkin dia akan berkata “tunggu saja saatnya”.

Tapi apa mungkin ya???Orang yang kita sayangi  100 % akan berbuat begitu pada kita??? Kasih koment ya!!!

Tugas makin menumpuk Minggu, Mar 30 2008 

Minggu ini adalah yang paling menyibukkan bagiku. Selain mengerjakan Tugas akhir, aku juga harus mengerjakan proyek yang dikerjar deadline. Tapi, aku yakin semua itu pasti bisa dihadapi apabila aku bisa memanage waktuku dengan baik.

Ayooo..Semangat..Semangat. DO THE BEST

Hati Nurani Selasa, Mar 25 2008 

Ketika hati nurani mulai berbicara, kita tak dapat lagi menolaknya. Bagai sebuah jalan hidup antara logika dan perasaan. Semuanya terasa sangat hampa.

Ketika harus memilih logika kita malah merasakan sebuah belenggu di hati kita. Namun, apabila kita memilih perasaan semua terasa tak sepadan dengan akal sehat. Jadi harus memilih yang mana????

Tanyalah sang Alkemis.

Salah kirim Kamis, Mar 6 2008 

Hari ini aku mengirimkan cerpenku ke KOMPAS. Ehhh..Taunya aku salah kirim yang harusnya ke opini kompas malah ke redaktur majalahnya. Trus..aku diingatin ama mereka biar ngirimnya nggak salah lagi.

Kira-kira beginilah balasan emailnya.

Salam,

Cerpen Saudara untuk Harian Kompas telah kami terima dengan baik. Mohon jika Saudara mengirimkan cerpen/artikel untuk Harian Kompas, silakan dikirim langsung ke alamat opini@kompas.co.id dan bukan ke kompas@kompas.com

Terima kasih atas perhatian Saudara

Salam,

Sekretariat Desk Opini

Setelah itu aku minta maaf ke bagian redaksi. Dan mereka bilang nggak apa-apa. Aku jadi lega banget.Aku janji aku nggak akan ngulanginya lagi..

PROMISE

Menulis Kamis, Mar 6 2008 

Uhhh…Belakangan ini aku mulai jarang menulis.Semua tulisanku “gantung” banget. Mungkin semua ini karena aku memutuskan untuk fokus ke tugas akhirku. Penentu apakah aku lulus atau tidak.

Tapi,apakah aku merasa bahagia dengan keputusanku ini. Jerit hati ingin menulis lagi. Kuputuskan utuk mengatur jadwal lagi. Aku kembali dengan buku yang mirip dengan agenda. Aku kembali menuliskan semua target-target yang hendak kucapai hingga satu tahun ini.

Aku meletakkan kata “menulis” di lembar yang masih tersisa. Aku menjadwalkan akan menulis lagi tapi aku hanya punya waktu malam hari yaitu di saat semua kegiatan telah berakhir.

Aku ingin menjadi penulis. Walau masih pemula minimal aku punya semangat untuk menggapainya. BTW sekarang aku sedang menulis novel yang berjudul “mencari Bayu”.

Novel ini adalah novel fiksi yang berisikan perjalanan cinta seorang perempuan dengan laki-laki yang bernama Bayu.Sebenarnya apa sih yang terjadi dengan Bayu!!!Mengapa dia begitu penting dalam kehidupan perempuan tersebut.

Nahhh…Inilah masalahnya. Aku belum mendapat ending yang pas untuk naskahku ini. Tapi tadi pagi aku bertemu dengan adik kelasku yang memberikanku sebuah inspirasi. Aku akan meletakkan namanya di dalam naskah tersebut.

Hmmm…kita tunggu saja hasilnya :) :) :)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.